Duh, Harus Kuliah Apa Nih??
Halo halooo๐๐
Ini cerita tentang dilema aku pas milih mau ambil jurusan apa dan universitas mana๐
Berawal dari seminar yang diadain Nobel (Nobel adalah agensi yang membantu pelajar yang ingin kuliah di Jerman, Belanda atau Prancis) yang diadain di salah satu hotel di Semarang. Aku bisa ikut seminar ini karena kebetulan college counselor-ku memanggil aku untuk mengikuti ini karena beliau tahu aku pengen kuliah di luar negeri.
At first, aku pengen banget kuliah di Jerman. Kenapa? Karena di Jerman itu interesting banget buat pelajar. Pertama, biaya sekolah gratis. Siapa coba yang gamau? Dengan notabene biaya kuliah gak murah di Eropa. Kedua bisa kerja part time yang hasil gajinya lumayan banget! Ketiga adalah pemerintah Jerman sangat perhatian pada international student. Jadi banyak banget keuntungan yang difasilitasi oleh pemerintah; seperti diskon transportasi untuk pelajar, diskon sewa kamar, dll.
Nah, setelah ikut seminar Nobel, makin sreg-lah aku pengen kuliah di Jerman. Walaupun udah dikasih tahu harus sekolah bahasa Jerman dulu dan SMA 1 tahun lagi, itu ga patahin semangat aku untuk kuliah di Jerman.
Mulailah mencari universitas mana yang bagus di Jerman. Kamu bisa cek ranking universitas Jerman (untuk tahun 2017-2018) disini. Banyak banget website-website yang menyediakan ranking-ranking universitas di seluruh dunia (seperti Top University and Times Higher Education; yang aku kasih link sebelumnya adalah Times Higher Education). Kurang lebih itu sama aja sih, cuma mungkin ada aspek pembeda untuk penilaiannya, jadi kalian mending bandingin dulu tiap per-website.
Akhirnya aku memutuskan ambil RWTH Aachen atau TU Munchen. Dua universitas itu adalah salah satu yang terbaik di Jerman.
Selanjutnya adalah memilih jurusan. Jujur, ini adalah salah satu step yang paling susah. Harus memilih satu dari sekian banyaknya jurusan di universitas. Sangat challenging!
Pertimbangan aku adalah pekerjaan yang pasti banyak dipake di 4 tahun mendatang (karna rata-rata lulus mahasiswa adalah 4 tahun) dan gajinya bagus (HEHEHE SIAPA YANG GAMAU UANG?!).
Mungkin kalian bingung dengan pertimbanganku kenapa harus begitu, kenapa ga sesuai potensi aku aja atau kesukaanku.
Jawabannya.............. Aku gatau potensi aku dimana. Yup, that's it. Kalau kalian bisa hampir semua hal (bukan sombong, ini sesuatu yang bisa jadi negatif akhirnya), kalian pasti bakal bingung apa yang kalian sukain saking banyaknya. Itu yang aku rasain. I love reading, fashion, math, books, and many more. Aku bukan tipe anak yang bisa fokus di satu hal. Aku cinta banget buku dan suka banget baca, tapi bukan berarti aku nerd. I do love fashion, too. Bingung kan? Nah makanya aku mempertimbangkan itu. Karena aku juga tipe anak yang suka banget mengambil resiko dan suka belajar hal baru.
Finally, I decided to take Technology major. Kenapa? Balik lagi ke pertimbangan aku, siapa sih yang gak make teknologi? Apalagi di masa mendatang. Wuih pasti makin maju. Dan ngambil jurusan teknologi di luar negeri pasti lebih baik kan daripada di Indonesia (negara berkembang). Jurusan teknologi ini banyak banget! Setelah milah-milah aku galau milih Computer Science atau Software Engineering. Walaupun sama-sama di bidang teknologi, 2 jurusan ini sangat beda. Computer Science lebih banyak teorinya dan terlalu luas & Software Engineering lebih mendalam ke praktek alias ke software-nya.
Di saat lagi bimbangnya milih jurusan, gak sengaja nonton video Gita Savitri tentang kuliah di Jerman. Seketika DOWN.............
Jadi ceritanya untuk kuliah di Jerman itu harus rela umur. Maksudnya harus rela cuma S1 6 tahun atau 7 tahun baru lulus. Kuliah di Jerman juga harus tahan banting, kalau dalam 2 tahun SMA di Jerman ga lulus ujian, Drop Out pilihannya.
Aku ga kuat karna lamanya kuliah. Aku udah punya rencana kuliah cepet, kerja, dan kalau bisa S2. Pokoknya pada saat itu aku down banget.
Aku ga ngerti kenapa tiba-tiba milih Belanda sebagai destinasi kuliah aku. Mungkin karena takut lulus lama HAHA. Mulailah aku fokus cari univ di Belanda. Sama kaya di Jerman, ada 2 tipe universitas di Belanda; Research University (univ biasa yang seperti di Indonesia) dan University of Applied Science/Hogescholen (ini adalah universitas yang lebih fokus ke praktek jadi lebih banyak jurusan yang lebih mendalam disini; ini seperti vokasi di Indonesia tapi lulusan bergelar S1).
Penasaran gimana kelanjutan proses aku memilih universitas di Belanda? Tunggu postingan selanjutnya ya๐๐
Doei!
Ini cerita tentang dilema aku pas milih mau ambil jurusan apa dan universitas mana๐
Berawal dari seminar yang diadain Nobel (Nobel adalah agensi yang membantu pelajar yang ingin kuliah di Jerman, Belanda atau Prancis) yang diadain di salah satu hotel di Semarang. Aku bisa ikut seminar ini karena kebetulan college counselor-ku memanggil aku untuk mengikuti ini karena beliau tahu aku pengen kuliah di luar negeri.
At first, aku pengen banget kuliah di Jerman. Kenapa? Karena di Jerman itu interesting banget buat pelajar. Pertama, biaya sekolah gratis. Siapa coba yang gamau? Dengan notabene biaya kuliah gak murah di Eropa. Kedua bisa kerja part time yang hasil gajinya lumayan banget! Ketiga adalah pemerintah Jerman sangat perhatian pada international student. Jadi banyak banget keuntungan yang difasilitasi oleh pemerintah; seperti diskon transportasi untuk pelajar, diskon sewa kamar, dll.
Nah, setelah ikut seminar Nobel, makin sreg-lah aku pengen kuliah di Jerman. Walaupun udah dikasih tahu harus sekolah bahasa Jerman dulu dan SMA 1 tahun lagi, itu ga patahin semangat aku untuk kuliah di Jerman.
Mulailah mencari universitas mana yang bagus di Jerman. Kamu bisa cek ranking universitas Jerman (untuk tahun 2017-2018) disini. Banyak banget website-website yang menyediakan ranking-ranking universitas di seluruh dunia (seperti Top University and Times Higher Education; yang aku kasih link sebelumnya adalah Times Higher Education). Kurang lebih itu sama aja sih, cuma mungkin ada aspek pembeda untuk penilaiannya, jadi kalian mending bandingin dulu tiap per-website.
Akhirnya aku memutuskan ambil RWTH Aachen atau TU Munchen. Dua universitas itu adalah salah satu yang terbaik di Jerman.
Selanjutnya adalah memilih jurusan. Jujur, ini adalah salah satu step yang paling susah. Harus memilih satu dari sekian banyaknya jurusan di universitas. Sangat challenging!
Pertimbangan aku adalah pekerjaan yang pasti banyak dipake di 4 tahun mendatang (karna rata-rata lulus mahasiswa adalah 4 tahun) dan gajinya bagus (HEHEHE SIAPA YANG GAMAU UANG?!).
Mungkin kalian bingung dengan pertimbanganku kenapa harus begitu, kenapa ga sesuai potensi aku aja atau kesukaanku.
Jawabannya.............. Aku gatau potensi aku dimana. Yup, that's it. Kalau kalian bisa hampir semua hal (bukan sombong, ini sesuatu yang bisa jadi negatif akhirnya), kalian pasti bakal bingung apa yang kalian sukain saking banyaknya. Itu yang aku rasain. I love reading, fashion, math, books, and many more. Aku bukan tipe anak yang bisa fokus di satu hal. Aku cinta banget buku dan suka banget baca, tapi bukan berarti aku nerd. I do love fashion, too. Bingung kan? Nah makanya aku mempertimbangkan itu. Karena aku juga tipe anak yang suka banget mengambil resiko dan suka belajar hal baru.
Finally, I decided to take Technology major. Kenapa? Balik lagi ke pertimbangan aku, siapa sih yang gak make teknologi? Apalagi di masa mendatang. Wuih pasti makin maju. Dan ngambil jurusan teknologi di luar negeri pasti lebih baik kan daripada di Indonesia (negara berkembang). Jurusan teknologi ini banyak banget! Setelah milah-milah aku galau milih Computer Science atau Software Engineering. Walaupun sama-sama di bidang teknologi, 2 jurusan ini sangat beda. Computer Science lebih banyak teorinya dan terlalu luas & Software Engineering lebih mendalam ke praktek alias ke software-nya.
Di saat lagi bimbangnya milih jurusan, gak sengaja nonton video Gita Savitri tentang kuliah di Jerman. Seketika DOWN.............
Jadi ceritanya untuk kuliah di Jerman itu harus rela umur. Maksudnya harus rela cuma S1 6 tahun atau 7 tahun baru lulus. Kuliah di Jerman juga harus tahan banting, kalau dalam 2 tahun SMA di Jerman ga lulus ujian, Drop Out pilihannya.
Aku ga kuat karna lamanya kuliah. Aku udah punya rencana kuliah cepet, kerja, dan kalau bisa S2. Pokoknya pada saat itu aku down banget.
Aku ga ngerti kenapa tiba-tiba milih Belanda sebagai destinasi kuliah aku. Mungkin karena takut lulus lama HAHA. Mulailah aku fokus cari univ di Belanda. Sama kaya di Jerman, ada 2 tipe universitas di Belanda; Research University (univ biasa yang seperti di Indonesia) dan University of Applied Science/Hogescholen (ini adalah universitas yang lebih fokus ke praktek jadi lebih banyak jurusan yang lebih mendalam disini; ini seperti vokasi di Indonesia tapi lulusan bergelar S1).
Penasaran gimana kelanjutan proses aku memilih universitas di Belanda? Tunggu postingan selanjutnya ya๐๐
Doei!
"SIAPA SIH YANG GAK MAU UANG?!" AHAHHAHAAHHA you gooo gurl :D
ReplyDeleteHAHAY, CURHATAN HIDUP BANGEDH YHAAA:))
Delete