The Best Moments, Highschool

Pernah denger kata-kata, ''masa indah ya masa SMA"? Yup, terdengar klise tapi itulah kenyataannya.

Aku SMA mencoba untuk merantau jauh dari rumah, Balikpapan-Semarang. Trust me, it is not an easy one. Aku bukan anak manja, tapi aku juga bukan anak yang begitu mandiri. Mungkin karena itu, papaku menyekolahkanku di SMA Semesta Semarang yang notabene sekolah asrama. 

Bayangkan, anak perempuan yang di rumah sudah ada yang membantu, apa-apa dikerjakan olehnya. Masak dimasakin, nyuci dicuciin, gak ada sesuatu yang mewajibkan aku melakukannya sendiri. Padahal aku anak perempuan lho, calon istri dan calon ibu yang harus bisa nyuci, masak, nyetrika (tapi aku bisa kok, cuma males aja hehe). Barusan aku menulis kata 'malas'. Kata itu yang membuat aku gamau melakukan apapun dan mungkin kata itu juga yang membuat papaku menyekolahkanku sangat jauh dari rumah.

Aku marah, aku benci, aku gasuka.
Itu first impression aku ke SMA-ku gak terkecuali marahnya aku ke papaku. Siapa yang nggak? Tiba-tiba diberikan pilihan yang sangat bukan zona amanku. I felt out of my safe zone. Untuk anak berumur 15 tahun itu sebuah ketakutan. Ketakutan tidak bisa menjalani hidup yang normal seperti biasa. Tapi, itu hanyalah ketakutan. Ketakutan seorang anak akan sebuah pengalaman yang tidak datang dua kali.

Awalnya, papaku mendaftarkanku melalui jalur reguler biasa dan membayar uang pangkal yang sungguh besar (sekitar 100jutaan). Ternyata rejekiku bagus dan aku mendapat full beasiswa 3 tahun dari Kalimantan Timur. Jadi aku ga bayar sepeserpun di Semesta, hanya uang jajan yang tidak ditanggung.

Disini aku gak akan menjelaskan tentang gimana sih SMA Semesta itu karena itu mungkin udah kurangkum di posting-anku sebelumnya (Highschool: Finished). Disini aku akan membagi cerita tentang masa SMA ku yang memang salah satu dari plans-ku untuk mencapai goals hidupku.

Kisahku dimulai pada Juli 2014, dimana saat itu adalah bulan Ramadhan. Jadi, aku hanya sekolah 10 hari untuk MOS dan Matrikulasi. Aku bertemu teman baru, budaya baru, dan bahasa baru dalam 10 hari itu. Aku tidak membuat teman banyak. Tapi itu adalah awal dari cerita 3 tahunku di SMA.

Aku masuk kelas khusus bernama Advanced Placement Class (AP Class). Untuk memasuki kelas ini semua murid diharuskan mengikutin tes potensial untuk mengetahui berapa IQ kita. Aku termasuk 10 besar IQ tertinggi seangkatan dan masuk ke kelas ini. Kelas ini dikhususkan untuk murid yang berencana akan kuliah di luar negeri karena kelas ini dilengkapi oleh pelajaran SAT, AP Subject, dan TOEFL IBT. I have no idea with my future university, tapi aku tau aku harus di luar negeri. Aku ambil kesempatan emas ini. Kelas ini hanya untuk 2 tahun dan dipisahkan dengan kelas reguler. Tidak mempunyai banyak teman karena kelas dipisah, itu pengorbanan yang harus aku ambil untuk masa depan yang lebih baik. 

Kelas 10 berjalan lancar. Aku mengambil AP Matematika karena dulu aku ingin jadi Akunting dan aku emang suka sekali Matematika. 
Kelas 11? It is different. 
Hidup tanpa masalah namanya bukan hidup ya. Jadi ada suatu masalah kecil yang menjadi besar (emang hakikat masalah gitu kali ya) yang membuat aku kembali ke kelas reguler.

Menyesal? Enggak. Kenapa harus menyesal kalau memang bukan disitu takdirku. Semua terjadi karena suatu alasan, dan kejadian itu pasti membawa sesuatu yang lebih baik lagi.

Aku mendapat impianku untuk berkumpul lagi bersama teman-temanku dan sahabat-sahabatku. Aku lebih merasa bahagia. Itu kan yang semua orang cari. Kebahagiaan. 

Aku mendapat 9 sahabat yang selalu ada di kala aku sedih dan senang. Ada Alsa (the best partner), Saras (sahabat dari SD), Angel (selalu ada dikala lapar), Bella (badut kita), Lia (kalo laper liat pipi dia aja yang kaya bakpao), Thiya (baik banget kembaranku), Nanda Kirun (jangan bilang gendut!), Muna (dia udah berhijrah sekarang;)), Roro/Nadia (lemah lembut banget). Mereka adalah pondasi di Semesta.

Aku merasakan hal indah yang berbeda dari orang-orang di SMA di luar sana. Aku merasakan deg-degannya kabur kalau ga mendapat izin dari ketua asrama, deg-degannya ketemu temen cowo di luar sekolah, tidur di kelas yang bisa berjam-jam, ulangan semester Fisika yang selalu menghafal jawaban, rasa inginnya ke sekolah cowok karena ingin melihat seseorang, gasukanya kalau dipanggil sidang dan ketemu kedisiplinan, dan ketemu teman-temanku yang ga bisa didapat di luar sana.

Aku merasakan indah dan buruknya di SMA. Tapi jangan diingat satu keburukan dan melupakan semua keindahan yang pernah terjadi. Semua akan indah pada waktunya, sabar dan usaha adalah kuncinya😉

Comments

Popular Posts